“aku menyerah. maafkan aku. aku tak punya kuasa.”

Waktu berputar belasan tahun ke belakang, ketika langit masih biru dan dedaunan gugur masih di tanah yang hitam.

Perempuan kecil sedang menggambar di atas kertas putih yang besar, melebihi badannya. Ia menggambar seorang laki-laki yang disebutnya ayah, dan seorang perempuan dewasa yang disebutnya ibu. Mereka berdiri berdampingan. Perempuan kecil ini asyik sekali dengan dunianya di kertas putih itu. Kemudian, seorang perempuan, yang lebih tua beberapa tahun datang mendekatinya dan bertanya,”Siapa itu?”. Perempuan kecil ini menjawab pelan,”Ini mama ama papa.” Perempuan yang berambut panjang itu, hanya tersenyum dan berangsur menjauh, membiarkan adik kecilnya tenggelam dalam fantasinya. Itu semua hanya fantasi.

Kayu menjadi lapuk, debu berserakan di atap-atap rumah. Suaranya berderak-derak seperti  buritan dihantam jangkar. Perubahan selalu meminta pengorbanan.

“Kamu bisa ceritakan apa yang terjadi?” tanya seorang Ibu yang mencoba mengasihani, begitu kukira. Aku hanya menggeleng, lantas menundukkan kepala. Ia melanjutkan kata-katanya,”Anak itu harus bisa jadi jembatan orang tua. Kalau orang tua ada masalah, anak harus bisa jadi penengahnya.” Aku tidak tahan. Aku pergi tanpa pamit, biar saja dia mau anggap aku tidak punya sopan santun atau apa. Karena menurutku, dia yang lebih tidak sopan, menasehati orang lain tanpa diminta, tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Jangan pernah sok tau! Urus saja keluargamu.

Bumi semakin tua. matahari semakin tua, namun sinarnya semakin panas. Seolah-olah ingin membelah bumi jadi berkeping-keping.

Perempuan kecil sudah ganti tokoh sekarang. Bukan perempuan kecil yang dahulu suka menggambar, suka menulis puisi, suka bermain sendiri, suka naik di atap rumahnya, suka mencari buah-buah kecil yang sampai kini ia tidak tahu apa namanya. Perempuan kecil sudah berganti menjadi sosok yang tidak bisa dikenali lagi. Tuturnya berubah, tatapannya berubah, bahasa tubuhnya berubah, senyumnya berubah dan pengetahuannya berubah. Tidak ada yang bisa mencegahnya, kecuali satu : ia terlalu penurut.

Mimpi merupakan awal dari penciptaan dan perasaan tidak mampu menjadi ujung tombaknya. Mungkin aku terlahir dari mimpi, tapi mungkin kurang sesuai harapan. Manusia seringkali menggantungkan harapan kepada manusia yang lain yang dianggap dimilikinya. Sehingga, ketika harapan itu kandas di tengah jalan, seperti panas menghanguskan cinta, seperti air menghanyutkan harapan. Semua terlihat gelap dan tidak beraturan. Kecendurangan manusia selanjutnya adalah, mencari yang lain. Sengaja menggantungkan ketakutan dan kekhawatiran di pundaknya dan berkata,”Kamu juga bertanggung jawab atas ketakutan dan kekhawatiran ini.” Siapa aku? Apa yang kutahu?

Alam diam. Tidak bersuara. Semuanya sendu dan biru. Menatap dan menanti apa yang aan terjadi selanjutnya.

Aku lelah karena tidak adanya kesempatan untuk tidak bertanya,”Kenapa harus aku?” Terdengar sangat tidak bijak dan kekanak-kanakan. Katanya manusia punya pilihan, katanya manusia punya keputusan, katanya manusia punya otak untuk berpikir, tapi semuanya nol. Aku memilih untuk bernafas, tapi oksigen yang harusnya kuhirup diserap habis hingga batas ambang normal. Apakah kau mengharapkan aku mati? Atau justru begitu khawatir akan kematianku?

Kekhawatiran adalah hal yang tidak terjadi. Kekhawatiran hanya seperti mambakar habis seluruh hidup yang kau punya. Kekhawatiran itu mematikan. Tapi sepertinya kau tidak tahu. Atau kau terlalu tahu sehingga sulit untukmu mengendalikannya? Apakah harus kugenapkan kekhawatiranmu menjadi kenyataan? Membunuh diriku sendiri. Agar genap segala kekhawatiran.

Semuanya menggenang, mengambang dan terlihat semu. Musim sudah mati.

“aku menyerah. maafkan aku. aku tidak punya kuasa.”

ada waktunya ketika engkau harus menginjak-injak perasaanmu kuat-kuat untuk sesuatu yang lebih besar. ada waktunya ketika engkau tidak bisa menangis karena penderitaan yang terlampau melebihi batas akal. ada waktunya engkau merasa, bahkan waktu pun tidak berpihak padamu, dan membiarkan engkau mengalami kegetiran yang menyebalkan. dan selebihnya, ada waktu untuk menulis semuanya dalam kertas dan menjaganya di laci meja kerja sampai kau menemukannya hangus bersama kertas-kertas keinginan yang lain.

ada juga waktunya, kau merasa bahwa perasaan yang kau miliki saat ini bukanlah milikmu. ada waktunya, engkau merasa tidak memiliki apa-apa di dunia ini, bahkan udara untuk bernapas pun bukan milikmu! apalagi perasaan memiliki orang lain. sehingga nanti engkau akan tahu mana yang harusnya engkau syukuri dan mana yang harusnya menjadi doa.

ketika segala sesuatu ada waktunya, namun harapan tidak pernah mengenal waktu. jika segala peristiwa ada waktunya, maka harapan seperti kereta api yang memiliki jalannya sendiri. tidak sesuai dengan jadwal, karena ia selalu ada. seperti cahaya lilin pada kaca yang memantul di malam hari, seperti bintang yang redup tapi tak pernah mati.

mencintaimu adalah keputusanku, namun memilikimu bukan hakku, sehingga kehilanganmu adalah di luar kemampuanku.

manusia tidak pernah dilahirkan untuk memilih. karena pilihan itu sebenarnya dalah nol. kita tidak sedang membicarakan kehendak bebas saat ini. kita sedang berbicara soal keputusan. bagaimana keputusan itu diambil? dan bagaimana keputusan dapat mempengaruhi kehidupan seseorang.

seorang teman pernah berkata bahwa keputusan tak lebih dari sekedar pasir lautan yang terhempas ombak lautan dan kemudian berpindah dan bercampur satu sama lain. tapi sebenarnya keputusan tidak semudah itu. ada pengorbanan dan air mata yang turut menjadi saksi atas pembuatan keputusan.

waktu seolah-olah menertawakan manusia, ketika ia melihat manusia harus termehek-mehek atau bahkan menderita untuk mengambil keputusan. apakah waktu sejahat itu? tapi sebenarnya tidak. ia cukup adil. waktu juga yang kemudian membiarkan serpihan-serpihan kaca yang menancap dihati lama-kelamaan berubah wujud menjadi oksigen dan membarui wajah manusia.

jika saat ini aku menangis ketika aku harus mengambil keputusan, molekul di udara pun ikut menanggung deritaku. jika saat ini aku merasa lemah karena keputusan berat tertanggung padaku, hujan dan rintik air mata berada di sampingku. karena gelembung asap tidak akan pecah sebelum ada keputusan. dan aku tidak akan menjadi orang yang sama lagi.

aku mencintaimu. sangat mencintaimu.

jumat. 10am. writing. pak patris.

Wah! Hari ini hari jumat! Ada kuliah! Hihihi.. Nanti ketemu Pak Patris di kelas.. Well, biasanya juga udah ketemu sama beliau, tapi pertemuan kali ini beda. Beliau bakal ngajar satu mata kuliah yang emang beliau bangeeettssss : writing! Noh kan?! Tapi saya exicted sih, bukan karena writingnya.. Tapi exicted untuk membayangkan ketika saya harus mengendalikan diri untuk gak ketawa keras-keras pada pelajarannya. Bukan karena guyon ama Bio, tapi biasanya, kalo Pak patris ngomong apa, imajinasi saya jadi kemana-mana dan kecenderungannya sesuatu yang menggelitik.

Ada yang bilang, Pak Patris rada boring kalo ngajar. Tapi mungkin bukan untuk mata kuliah writing. jadi saya penasaran bener gitu.. Gimana ya rasanya diajar ama Pak Patris?? Bukan dihajar, tapi diajar.. Hehehehe

Pagi ini Pak Patris jelasin tentang penilaian, trus topik-topik apa yang bakal dibahas untuk 7 kali pertemuan ke depan. Dan hari ini tentang.. what’s in a name?

Hemm.. What’s in a name? Kalo Shakespeare yang dikasi pertanyaan ini, dia pasti bakal jawab : what is a name?? hihihi.. kalau saya?

Nama saya, Maria Agustina Mamahit. Saya gak suka banget sama nama ini. Coba baca beberapa kali. kesannya eneg dan terlalu biasa. Ya gak? menurut saya iya. Huh. Nama ini dibuat oleh Ayah saya. Mari kita telaah satu per satu.

Maria. Maria Mercedes? Orang-orang Latin gemar sekali pake nama ini. Nama ini pasaran! Well, yeah.. Nama ini memang nama Ibu Yesus. Iyah sih..tapi..apa gak ada nama tokoh lain?? Pokoknya saya gak suka.

Agustina. Itu gara-gara saya lahir bulan Agustus. So what kalo saya lahir di bulan Agustus, trus saya dikasi nama yang ada agust-agust-nya.. Gara-gara nama ini juga, saya sering dipanggil Agus! Agus! Gak keren banget.. Apalagi ada imbuhan -ina-nya itu lho..

Mamahit. Mau gak mau. Ini nama marga. Walaupun banyak juga yang ngolokin nama marga ini, tapi biasanya, kalau mereka udah pada ngolokin, saya sering bilang : Heh! Kamu menghina nenek moyangku, ya?? Menghina Kakekku, ya?? hehehehe

Tapi, saya juga punya nama panggilan. Grace. Bagus kan?? Saya suka banget nama ini. Keren kesannya, berkarakter. Entahlah. Pokoknya saya suka. Lagipula, nama ini punya sejarah ketika diberikan kepada saya. Saya merasa, nama Grace ini benar-benar seperti artinya, anugerah. Saya merasa kalau hidup saya adalah anugerah. Dan ketika Tuhan memutuskan untuk memberikan hidup yang  juga merupakan anugerah ini kepada saya, saya jadi merasa, ada sesuatu yang sedang Tuhan persiapkan untuk saya. Ia tidak ingin saya mati.

Kemudian, saya mendengar beberapa cerita teman-teman yang lain tentang nama-nama mereka. Pada saat yang bersamaan, pikiran saya juga melayang-layang…

Maria. Maria itu Ibu Yesus. Apakah kamu tau siapa dia, selain dia Ibu Yesus? Maria itu adalah orang pilihan. Dia terpilih untuk satu pekerjaan besar. Ia adalah perempuan yang melahirkan Yesus, Sang Juruselamat, Tuhan itu sendiri. Dia yang dipilih. Maria, bukan yang lain. Dia juga perempuan yang diberi anugerah besar yaitu, bayi Yesus. Tanpa ada Maria, mungkin Yesus tidak pernah lahir. Jadi, Maria ini memang dipersiapkan untuk sesuatu yang besar yang akan mempengaruhi peradaban! Dan itu nama saya. Maria.

Saya jadi merasa bersalah. Di lain pihak, saya jadi merasa..saya benar-benar manusia yang paling beruntung di dunia ini. Saya ini cuma satu di dunia. tidak ada Maria lain yang seperti saya. Hidup saya ini anugerah. Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang besar untuk saya kerjakan bersamaNya, dan itu akan mempengaruhi peradaban! Siapkah saya?

-GraceForevah-

Nb: Terima kasih, Pak Patris.. Saya percaya, bukan kebetulan Bapak pilih buku itu sebagai panduan mengajar, dan Bapak pilih topik-topik itu. Saya juga percaya, bukan kebetulan, saya tidak merasa malas ketika saya berangkat ke kampus pagi tadi, walaupun ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan di radio. Tuhan sudah mempersiapakan saya tadi pagi untuk sesuatu yang akan membuat perubahan besar dalam hidup saya hari ini.

pernahkah kamu mengalami sesuatu seperti ini: kamu harus melakukan sesuatu yang tidak mungkin kamu lakukan, bukan karena ketidakmampuan, tapi karena ketika kamu melakukan itu, kamu merasa seperti bukan kamu,  kamu sedang menjadi orang lain. namun di lain pihak, banyak sekali orang-orang yang mendukungmu untuk melakukannya??

rasanya menyakitkan. memilukan. tidak enak. sama sekali. apalagi ketika orang-orang yang mendukungmu semakin mengejar-mengejarmu untuk melakukannya, dan mereka mulai ngambek karena mereka melihat tidak ada tanggapan yang seperti mereka harapkan. rasanya tidak enak. sungguh.

memang semua pilihan. tapi bagaimana kalau begini. kebijaksanaan macam apa yang harus dipakai. otak sebelah mana yang harus dipakai untuk berpikir? 

memang semua pilihan. dan keputusannya ada di tangan sendiri. namun ketika menentukan keputusan banyak pertimbangan yang harus dibuat. banyak perkiraan yang harus dipikirkan. perasaan yang bagaimana yang harus dipakai untuk berpikir?

jadi semakin kabur definisiku tentang pilihan, tentang keputusan, tentang keinginan, tentang harapan, tentang ambisi, tentang obsesi…

ini sudah ujung januari.

asli! dari pagi ketawaaaaaaa terus…hm? bukannya ini masih pagi ya?? tapi asli deh! hari ini ketawa terus..ada aja yang bikin ketawa, mulai dari dengerin siaran debrina yang mbanyol gak karuan..gara-gara pake kata-kata yang  juga gak karuan di on air..[udah dibilangin berkali-kali, kalo siaran itu buar naskaaahhh..mana si buk bos gak ngawasin lagi, kalo kayak gini kan ngaruh di marketing, ntar pak bos ngomel-ngomel..walah, jadi panjang ternyata] walopun gitu, ujungnya, aku juga tetep ha ha hi hi..wakakakakakka..ketawa ngakak..

begitu sampai di sola, eh! dibahas lagi ama beberapa teman disana..jadi lebih panjang lagi deh ceritanya..tapi ya intinya tetep aja, ketawa ngekek..wekekekekeekk…

aduh ya ampun, udah lumayan sakit perut nih…

eh, trus baca blognya agung. ampun bli, ampun…ngekek ngekek gak karuan..

well. akhirnya setelah berhenti ketawa, jaid pikir-pikir, wah! jangan-jangan mo ada apa-apa nih? hehehe^^ kan mitosnya gitu, kalo banyak ketawa, katanya mo sedih..katanya..trus, pengaruh apa yang terjadi pada saya apabila saya tertawa terus-menerus? [latian nulis karya ilmiah nih..] huaaaahhh..tapi yang jelas dari apapun yang dipikirkan, gak ada yang lebih baik untuk membuka pagi, selain dengan tersenyum dan beberapa hal yang memicu kita untuk tertawa, otot jadi lemes, saraf jadi lentur, peredaraan darah jadi lancar, banyak oksigen menuju otak, sehingga menbuat otak bekerja maksimal..otaknya jadi ikutan hepi gitu..

yasudlah, jadi teman-teman..jangann lupa untuk terenyum untuk membuka pagi. ini bisa membuat seharian Anda jadi lebih berwarna. approved!!

aku pikir, tahun baru akan terlewatkan begitu saja. aku pikir, tahun lama akan berlalu begitu saja. aku pikir, semuanya akan biasa-biasa saja.

pagi itu semua berjalan seperti yang kuingini, jadi terasa biasa. oleh karena sudah terbiasa biasa, maka semuanya jadi lebih terasa hampa. hari demi hari, semakin biasa, rasa hampa pun semakin menjadi. rasanya menangis tapi tak berhenti. rasanya tak menangis tapi berhenti.

pagi ini, biasa. aku harus berpikir tentang busana apa yang akan kupakai, mengingat ada beberapa artis ibukota yang harus kutemui. [sok dandan jugah..] lagipula, aku akan datang ke komunitas yang jarang kudatangi. berpakaian nyaman dan sempurna. tapi tetap saja, hampa. walaupun memang dalam lubuk hati berharap akan sesuatu yang istimewa terjadi. apalagi di bulan desember ini. 

tik tok tik tok tik tok tik tok tok 

tik tik tik tik tik tik tik….

air mataku mulai menitik seiring ucapan-ucapan penuh berkat dan nubat berkumandang di telingaku. seiring dentingan piano mengalir memenuhi ruangan. aku menangis, menangis semauku. mengakui semua kesalahanku. menanggalkan egois dan gengsiku. ku peluk erat-erat seorang perempuan yang menguatkanku,”I need Jesus.. I need Jesus..”

she huged me tightly and said blessed prayer for me. she prayed for me. she prayed for my future. and the other artist came to me, huged me also and said several surprisingly words. she never knew me before, she didn’t know my background, my family, but she said, “God will restore your family, it begins from you, be a light in your family. He knew your sorrows..God will restore your family..”

i couldn’t stop crying. felt guilty, embarassed, not deserve, and broken but in the same time, i felt the lovely peace came to my heart, and a great grace, and a beautiful strengh to face my life… i’m a new person now. and i belong to Jesus Christ.

dari dulu saya memang yakin tidak ada yang kebetulan di dunia ini. tapi kali ini, saya benar-benar yakin, ketika saya yakin akan hal itu maka hal itu terjadi dalam kehidupan saya, sehingga saya bukanlah saya lagi, melainkan ada Pribadi yang luar biasa dahsyat yang berkuasa akan kehidupan saya. 

waktu merupakan salah satu alat penentu keputusan, tapi keyakinan akan keputusan itu bersumber dari kemauan hati kita. perubahan adalah sesuatu yang pahit, tapi sesuatu yang pahit itu nantinya akan berbuah suatu perubahan menuju perubahan lain yang tidak pernah kita tahu besarnya. keputusan dan perubahan adalah paket yang tidak terpisahkan. dan paket ini disebut anugerah. dan waktu kemudian berubah menjadi saksi, dimana cinta kasih melahirkan sesuatu yang tidak pernah terduga. kebetulan, rencana, waktu, keputusan  dan perubahan… siapa manusia yang bisa menciptakannya? 

pagi ini, ini pagi sekali. keramaian belum datang, yang ada cuma hening. aku bersimpuh tanpa suara, membiarkan Ia memasuki relung-relung hatiku, mengisinya dengan udara segar, dengan harapan besar dan semangat yang menyala-nyala. ada pekerjaan besar yang sedang dipersiapkan, ada rencana indah yang sedang ditata, untukmu dan untukku. 

tidak ada kata nanti untuk bersiap. sekarang!

atau.. Apakah saya akan menjadi penulis? entahlah.. tapi kegiatan menulis tanpa saya sadari menjadi suatu kebutuhan. dan kebutuhan ini secara pelan tapi pasti, sepertinya akan membunuh saya. tapi tak apa, apabila kegiatan berhasil membunuh saya, maka saya akan merasa terhormat karenanya.

tapi ada satu kegiatan lain yang tidak bisa dipisahkan dengan menulis, yaitu membaca. mereka berdua ini seperti jodoh, saling melengkapi, saling menerima dan saling membutuhkan. dan sepertinya, saat ini mereka memang sedang berencana untuk membunuh saya.

ketika saya masih duduk di bangku smp, saya gemar sekali menulis. menulis puisi, prosa, laporan kegiatan hari itu, atau curhat tentang perasaaan saya. yang parahnya, saya suka nulis dimana-mana. tapi paling sering di kertas binder saya. dan masih saya simpan sampai sekarang. [dan saya berjanji tidak akan merombengnya, karena tulisan saya tidak semurah harga tawar-menawar dengan tukang rombengnya]. setiap selesai menulis, saya selalu menggambar dekoratif dibubuhi dengan tanda tangan saya. ^^ kalo dipikir sekarang, PeDe amat ya saya..yah gapapalah, toh sekarang itu masih jadi konsumsi pribadi saya. lulus dari bangku smp, memasuki masa-masa yang ‘indah’, saya semakin giat menulis. tapi sekali lagi, itu dibarengi dengan kegiatan lain yaitu, membaca. selepas sma, masuk di bangku kuliah. tahun pertama dan hampir tahun kedua saya, tidak ada yang berubah. saya masih tetep suka nulis, waktu itu saya sudah mengenal blog. saya masih tetep suka baca. sampai suatu waktu dimana keinginan melebihi segalanya. saya mulai bermimpi bahwa hari bukan hanya terdiri 24 jam, saya ingin lebih, 24 jam terasa kurang! saya mulai menjauh dari buku dan akibatnya saya jadi malu untuk menulis. beberapa waktu, saya mencoba untuk benar-benar melupakan mereka dan menjadi munafik dengan tetap mengaku suka membaca dan menulis, tapi tidak menghasilkan apa-apa. saya menjadi seorang yang tidak berani menerima kenyataan bahawa saya memang sedang melupakan mereka berdua. sehingga saya terus mengaku dan meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya tidak berpisah dari mereka. dan disinilah saya menyadari sesuatu ; menulis adalah kebutuhan saya, dan membaca adalah jodohnya. saya merasa bersalah telah mengkhianati mereka.

memasuki dimensi waktu dan ruang yang berbeda, saya membersihkan tumpukan-tumpukan buku yang berdebu dan membaca kembali tulisan-tulisan saya dahulu. seolah saya sedang meminta maaf mereka atas pengkhianatan yang telah saya lakukan dan mereka memaafkan saya. mereka berbisik kepada saya bahwa dalam dunia mereka, kehadiran mereka sangatlah dinanti. mereka punya banyak teman disana, mereka punya banyak gairah disana dan mereka punya banyak harapan dan ramalan yang besar terhadap diri mereka sendiri. tapi seiring dengan bangkrutnya waktu dan kompromi terhadap diri saya, maka mereka mimpi mereka perlahan terkubur. mendengar hal ini saya menjadi sedih, saya merasa sangat bersalah dan merasa menjadi manusia paling bodoh sedunia. namun, mereka kemudian berbisik lagi, bahwa mimpi mereka cuma terkubur, tidak mati, seperti benih yang dikubur untuk kemudian bertumbuh dan berkembang seiring waktu dan musim. saya semakin menagis tersedu. saya telah salah menilai kehidupan saya selama ini. saya peluk mereka dan mereka membalas pelukan saya. atmosfir udara seketika berubah, langit kemerahan dan matahari perlahan turun. saya menemukan diri saya kembali.

 

Apakah Anda gemar menulis? Tidak.

Membaca? Tidak.

? Saya hanya menjalin ikatan emosional dengan mereka.

sudah malam,grace..

i know, tapi masih ada beberapa hal yang harus kukerjakan. kalo gak selesai malam ini, aku bakal merasa gak bertanggung jawab…

pagi datang, aku masih di depan komputer. seorang teman baru saja datang dan terheran-heran melihatku. kamu kerja semalaman? Yup. Trus bis gini ke kampus? Yup. No Comment. kemudian ia berbalik arah menuju studio tempat dia harus menunaikan tugas pagi ini. tiba-tiba aku jadi diam. berpikir, flash back singkat tentang apa yang baru saja ia tanyakan padaku. tapi kemudian dengan segera aku menghentikan pikiranku. aku tidak mau ia terlalu berprediksi kemana-mana. aku bangkit berdiri, beranjak mengambil sepatu dan kemudian bergegas pergi menuju kehidupan.

semakin cepat langkahku, semakin banyak pikiran yang muncul, semakin banyak emosi yang keluar. aku berhenti sejenak, menatap ujung sepatuku. penuh debu dan sudah mulai kusam. terlalu banyak dipakai berjalan rupanya. perjalanan macam apa yang telah dilalui sepatu ini? waktu seperti apa yang ia gunakan untuk membuatnya menjadi kusam? atau..apakah matahari juga mampu membuatnya menjadi berdebu? kemudian aku melihat titik air kecil menetes disana, di ujung sepatuku. itu air mataku.

berapa kilometer yang telah tertempuh? aku tidak pernah bisa menjawabnya. manusia selalu melakukan perjalanan dalam hidupnya, melewati beberapa kelokan dan menempuh jurang, kemudian barakhir di lautan. dalam setiap perjalanan, ada saja yang ditemui, ada siapa saja yang dijumpai. tapi masih tidak tahu apa yang dicari. walaupun semuanya tau bahwa tujuan akhirnya adalah lautan. damai, indah, segar dan menghangatkan.

pagi ini, sambil menatap ujung sepatuku. aku berhenti berpikir tentang berapa kilometer yang kuhabiskan untuk menulis deretan judul-judul lagu di komputerku, atau menghitung berapa banyak kopi yang kuhabiskan dalam sebulan untuk menemani waktu lemburku. apakah semua terasa sia-sia? bisa jadi ya. mungkin jenuh sedang mengikutiku sekarang. tapi aku tidak peduli, toh nanti dia akan jenuh sendiri mengikutiku.

aku menatap ke depan, memandang jalan di depanku. masih ada kilometer-kilometer di depan yang tidak aku tahu. hidup tidak akan terasa lelah bila aku berjalan. namun akan terasa memilukan ketika tidak bisa merasa lelah.

pagi ini dengan sepatu coklatku, kuputuskan untuk terus berjalan : mencari halte berikutnya.

kemarin ada satu hal yang menggelitik ingatanku. ingatanku tentnag beberapa tahun silam, dimana waktu itu aku masih berbaju seragam dan membawa tas backpack. tidak ketinggalan sepatu kets dan kaos kaki putih.

aku melihat tingkah lakuku yang dulu pada salah satu teman baikku. jadi kemudian akhirnya bertanya-tanya, kenapa ya cewek kalo ngeliatin cowok yang cakep itu berbinar-binar?? ya semua pasti gitulah ya..tapi dalam level ini binar-binarnya lebih dari biasanya. salah tingkah sendiri, mati gaya sendiri, berpikir dan berangan-angan sendiri. aku jadi geli sendiri melihatnya. but it’s normal..

hem…kadang-kadang sempat juga terpikir untuk ingin melakukan dan kemudian merasakan ‘binar-binar’ yang sama. tapi sepertinya udah bukan waktunya lagi ya… cuma, kangen aja ama masa-masa seperti itu..

huh..jadi melankolis di saat yang tidak tepat..

apakah laki-laki juga merasakan hal yang sama?