Air Hujan
Air hujan! Air hujan!
Bertalu-talu tetesannya jatuhi dahiku.
Menancapkan kesedihan karena dingin pada rongga dada begitu menusuk pilunya.
Air hujan! Air hujan!
Bertalu-talu menetes tidak kenal lelah. Seperti anak manusia yang tidak patah arang untuk mengejar mimpinya, bahkan ketika ia harus terjatuh untuk ke sekian kalinya. Terpeleset licinnya air hujan sendiri.
Air hujan! Air hujan!
Bertalu-talu jatuh pada jiwa-jiwa merana. Menyebarkan kesejukan, sekaligus dingin yang menusuk tulang. Semua dibuat beku, kaku, kikuk. Sang pecinta kehilangan romantisnya.
Air hujan! Air hujan!
Bertalu-talu jatuh pada wajah seorang anak kecil. Kegirangan atas kedatangannya yang tiba-tiba. Menganggap ia adalah sahabat setia. Membiarkan ia melumuri sekujur tubuhnya.
Air hujan! Air hujan!
Bertalu-talu jatuh dan larutkan prasangka. Kemudian dihanyutkannya menuju pantai, tempat pertemuan terakhir kita.
Air hujan! Air hujan!
Bertalu-talu jatuh tiada jemu.
Air hujan!
Taukah kamu, air hujan!
Hanya melaluimu, aku reguk nafasnya. Air hujan!
Pilu di rongga dada ini, air hujan..
Sampaikan..
Ini tidak sementara.
Air hujan!
Aku hanya ingin melihatnya..