Mata Matahari, Samesta.
Tubuhku sesak berbalut selaput. Sudah cukup bagiku, untuk hanya mendengar saja, untuk hanya meraba perasaanmu saja, untuk kita bicara dari hati. Karena mata yang terbentuk itu, adalah sambung jiwaku denganmu.
Paru-paruku terbentur darah menghirup aroma senyawa murni ini. Mereka diluar menjerit, berteriak ini kotor. Tapi aku tahu, sesungguhnya inilah yang murni. Karena apapun yang nista, pada hakekatnya adalah suci.
Aku melenguh menyeriap waktu. Ia tidak berperang denganku, sebaliknya, ia menghampiriku dan membisikku keajaiban. Kecelikan ini adalah anugerah. Aku sadar itu.
Aroma dunia ini mengingatkanku pada molekul-molekul pertama perkenalanku denganmu. Kau jelas tidak menjanjikan kebahagiaan. Namun kau menawarkan pertarungan, bukan untuk kematian, melainkan untuk kehidupan.
Pada percakapan terakhir Bapa, ia mengalirkan energi padaku, “Selalu ada oksigen baru, bagi mata yang dicelikkan, bagi mata yang sesaat lagi akan melihat matahari. Di sanalah, perjuangan dimulai. Terbanglah,Nak. Kibarkan sayapmu. Jangan ragu, rentangkan hingga bumi terbenam. Karena ketahuilah, akulah langitmu.”
Aku menggeliat telanjang. “Bapa, aku kini dapat menghitung iris matamu. Ajari aku menghitung debu dan riak ombak dunia”
Sedap…
July 7, 2011 at 12:59 am
Like!!
November 10, 2011 at 8:10 pm