Faith

Senja yang temaram.
Angin musim panas yang berhembus, menerbangkan hawa-hawa cemburu, amarah, kepahitan, dan ketamakan. Kemudian terhempas di muara-muara laut, berbaur dengan garam, terurai, lantas hilang. Langit kemerahan, awan membias-bias membentuk garis dan bayangan-bayangan yang terlalu menakjubkan. Hati saya berlonjak. Girang!

Bagaimana saya bisa menggambarkan rasa syukur ini? Saya sungguh beruntung menjadi manusia! Saya bisa mengalami peristiwa-peristiwa diluar dugaan saya, dan berpikir, mengerti, serta memahaminya! Ini anugerah.

Bagaimana saya bisa menjelaskan kebahagiaan yang hampir diluar kebiasaan ini? Saya sungguh terpilih menjadi manusia yang menyadari keberadaan Pencipta saya, terlebih mempercayaiNya. Siapa yang meletakkan rasa percaya ini dalam diri saya jika bukan Ia sendiri?

Dan hari ini, untuk kesekian kalinya, dalam kali yang tidak terhitung, saya kembali diselamatkan. Saya suka menggunakan kata ‘faith’ untuk menjelaskan ini. Ketika sesuatu terjadi pada diri saya, dan itu sungguh diluar prediksi. Seperti roller coaster yang melaju kencang dan kemudian membalikkan dirinya, begitulah kenyataan yang sepertinya harus saya hadapi. Namun, sebelum rollercoaster itu terbalik dan memporak-porandakan segalanya, saya sudah keluar dari rollercoaster itu. Pencipta saya yang menarik saya keluar.

Untuk segala sesuatu yang menyakitkan hati saya, -padahal saya merasa sudah memberikan yang terbaik- ternyata penolakan, disingkirkan, dan dibuang adalah feedback yang harus saya terima. Saya bisa saja marah, menangis kesal, bersikap tidak baik, berpikir buruk, dan melakukan hal-hal yang hanya akan mengacaukan keadaan. Tapi, ada energi yang menenangkan saya. Memang benar, diam bukanlah kebodohan. Saya diam dan berpikir. Saat inilah, ‘faith’ datang dan menuntun saya.

Mengapa manusia mengecewakan? Karena hanya Tuhan yang dapat diandalkan.
Mengapa sikap-sikap negatif datang dari orang yang saya percaya, ketika saya sudah berusaha sebaik mungkin? Karena saya diingatkan, apakah yang saya lakukan ini adalah benar dan memang seharusnya saya lakukan? Ternyata tidak.
Mengapa saya harus menerima jenis perlakuan negatif seperti ini? Karena saya diajar untuk lebih menghargai orang lain lagi.
Mengapa saya harus mengalaminya disini? Agar saya sadar, bahwa keluarga dan orang yang mencintai saya adalah prioritas utama saya saat ini. Ketika saya jauh, merekalah yang selalu menyebut nama saya dalam doa-doa mereka.
Mengapa harus peristiwa ini? Agar saya punya bahan untuk menulis kembali!
Mengapa harus saat ini, harus sekarang? Hanya karena sebelum semuanya terlambat, dan hal-hal lebih buruk tertimpa pada saya.
Mengapa harus saya? Karena saya yang dipilih. Ini bersifat pasif bukan aktif. Respon saya adalah bentuk aktifnya.

Saya adalah yang dipilih untuk mengalami, mengerti, memahami, dan akhirnya memuliakanNya.

Saya melihat wajah saya di air dalam danau. Setetes air mata menitik tenggelam. Saya penuh haru, hati saya penuh dengan syukur, dan perasaan mengampuni. Saya melepaskan satu teriakan, sebagai tanda bahwa saya telah melepaskan semua kekecewaan saya, sekaligus menyampaikan pada alam betapa bersyukurnya saya sebagai manusia yang memiliki Tuhan.

Saya lahir kembali hari ini.

China. 2014.

Advertisements

Musim Semi dan Hujan

Musim semi datang. Hawa dingin hilang.

Hujan pagi ini berbisik di telingaku bahwa rintiknya tidak akan berlangsung lama. Aku beringsut dari ranjangku dan memberanikan diri menyapa langit Xiamen yang sulit ditebak warnanya. Putih, datar tanpa awan, sedikit pucat bahkan. Ah, ini musim semi, dimana semua orang selalu menunggu-nunggu musim ini. Tapi tidak untukku.

Kicau-kicau burung melagu merdu, nada-nadanya bergantung pada serat-serat kulit pohon. Tanah yang basah, dan udara yang lembab. Semua orang senang musim ini, musim kebahagiaan. Tapi untukku, ini adalah musim kehidupan, ketika yang sesuatu baik datang, bukan berarti kesedihan tidak mengikutinya.

Aku meresapi dalam-dalam suara alam pagi ini mengalir melalui rongga-rongga sarafku. Aku biarkan benih-benih musim semi yang terbawa angin tumbuh dalam otakku. Menjadi begitu penting, ketika kata-kata adalah bermakna dan maknanya hanyalah berdasarkan persepsi pikiran saja.

Aku tidak bertanya, apakah burung yang berkicau itu sebenarnya sedang mengeluh atau meminta sesuatu ataukah sedang memuji-muji Penciptanya? Apakah hujan pagi ini pertanda baik untuk kesuburan ataukah pertanda musim panas yang tanpa hujan? Apakah langit putih kelabu ini adalah sesal sang langit kepada bumi ataukah suatu tanda bagi matahari untuk datang kembali esok hari? Disaat seperti ini, bukan pertanyaan yang kita butuhkan, tapi keheningan.

Aku memutuskan untuk tetap menjalani hari ini dengan caraku sendiri, dan meninggalkan kemuraman di teras kamar. Aku tidak gembira, namun aku memiliki pohon yang hijau dalam hati, dan ia sedang bertumbuh. Hidup adalah persoalan mengerti serta memahami, tak perlu sakit hati.

China.2014.

Dimensi

Matahari menyergap cepat. Udara dingin menyentuh saraf-saraf. Aku terbangun bukan karena bunyi alarm yang berdentang begitu kencang, namun oksigen yang menyentuh permukaan kulit menyadarkanku bahwa hari ini bukanlah hari yang biasa. Pupilku membesar, ada langit-langit kamar berwarna abu-abu muda di atas sana. Suara detik jam yang terdengar semakin cepat dan semakin keras di telinga. Aku menghirup udara yang baru. Ini China.

Entah ini hari apa, hari ke berapa, aku tidak tahu dan lebih baik tidak menghitungnya. Semakin aku menghitung, semakin aku merasa bahwa waktuku tidak banyak. Pagi ini, rutinitas baru. Aku segera bersiap. Bersiap untuk bertemu dengan orang-orang yang baru kali ini kulihat matanya, yang baru kali ini kulihat guratan senyumnya, tapi tidak untuk polanya. Senyum dengan pola seperti itu, sudah terlalu sering aku lihat. Ketidakpuasan, kebimbangan, ambisi, dan nafsu. Orang dari belahan dunia mana saja, sama.

Aku berjalan menyusuri jalanan batu, dengan pemandangan gedung-gedung tua yang mempesona, gedung-gedung tua yang menyimpang ribuan sejarah dan cerita. Angin memainkan anak rambutku, berhembus dingin di sela-sela leherku. Ada seseorang membisikkan sesuatu. Aku terkesiap. Berusaha menyadarkan diri. jarak ini ribuan mil bilangannya, ditambah dengan waktu yang berbeda. Bukankah satu detik selisih adalah perbedaan yang besar? Bukan cuma itu, kenyataan bahwa raga yang menjadi masalah ini telah menyerahkan dirinya pada perapian di musim panas. Namun bisikan itu, saat itu.. Langkahku tidak berhenti. Mataku tidak terkejut. Angin telah menyentuh molekul terkecil dalam tubuhku, seiring aku merasakan jiwamu ada di sini.

Apa yang terjadi di sana? Ah, kamu hanya merindukanku. Ya, kan? Kamu hanya tercabik oleh pikiranmu sendiri. Bukankah kita telah sampai pada puncaknya. Raga adalah soal dimensi, tapi cinta tidak punya dimensi. Kita tidak punya dimensi.

China. 2013.

‘Release’

Sungguh, kali ini saya tidak bisa menjelaskan secara detail apa yang terasa.

Bagaimana jika kamu punya rasa cinta, kamu punya hubungan, kamu punya tujuan, tapi kamu juga sungguh sadar akan keadaannya? Bukan seperti menantikan ‘waktunya’ datang, namun ternyata yang di depan ini seolah berkata demikian. Bukan bermaksud sepertiĀ  paranormal yang canggih bisa memprediksi masa depan, tapi manusia dikaruniai logika untuk berpikir tentang resiko dan akibat. Inilah yang sedang saya lihat, -tanpa gelas kristal, kemenyan, cangkir isi ampas teh, atau kartu tarot yang berjajar. Ini logika.

Di sisi lain, saya juga punya unsur ketidak logikaan.
Karena saya tahu resiko dan akibat yang bisa saya tanggung, saya menjadi berpikir kembali. Saya lebih mencintai apa yang saya yakini, bukan karena saya takut. Namun, itu adalah pondasi saya. Tiap orang punya cara berpikir yang berbeda. Dan sebagai perempuan, bukan menempatkannya pada posisi kedua, tapi dalam hal ini, perempuan menjadi sosok pengikut, bukan pencipta, -saya sadar itu. Hanya saja, perempuan, saya, seorang individu, -juga memiliki prinsip kehidupan. Bukan takdir, atau nasib, bukan pula keegosentrisan manusia, melainkan sesuatu yang hakiki dan mutlak. Sehingga, akhirnya saya memutuskan untuk memilikinya dengan cara ‘release’. Nah, bagian ini yang sulit diterjemahkan. Perasaan ‘release’, dengan cara yang ‘ringan’.

Bukan bukan.. bukan meremehkan, bukan tanpa tujuan, bukan main-main atau tidak serius. Bukan..
Ya ini ‘release’..

Tidak ada

Ini adalah reuni memori-memori yang lama terpendam. Peristiwa demi peristiwa berkelebatan acak tanpa kronologi dan penjelasan settingnya. Terlalu banyak. Reuni ini secara tidak langsung memainkan perasaan, seperti pisau berkarat yang dihujam-hujamkan, bukan sakit tapi rindu.

Aku mencoba mengingat-ingat ucapan apa yang senantiasa membuatku bertahan. Tidak ada.

Kami tidak berucap, bahkan ketika berpisah sekalipun.
Tidak ada.

Percakapan Malam

Dingin. Sembilu.

Aku baru saja mengunci pagar setelah seorang teman lama datang berkunjung. Hampir satu tahun yang lalu terakhir kali aku menemuinya. Musim berganti, arah angin berbeda, kehidupannya pun berubah.

Pertemuan 3 jam kami, -yang sebagian besar adalah ceritanya, membuat pikiranku terusik tentang kenyataan, kebutuhan, pernikahan, dan cinta. Ini seperti kompleksifitas yang tidak mempunyai pemisah. Banyak sekali yang ia ceritakan, komplit dengan sudut pandangnya sebagai seorang individu, perempuan, ibu, dan teman. Ia bercerita bagaimana cinta baru adalah yang menghidupkannya kembali, tanpa berpikir apa yang akan terjadi esok hari, seperti hidup di atas awan, dalam mimpi, dan inilah fatamorgana. Di lain sisi, bagaimana ia senantiasa terbayang-bayang mata anak-anaknya yang tanpa pamrih dan dendam, tanpa rengek dan tangisan, selalu tertawa walau susu tak ada, dan inilah kenyataannya.

Kulihat matanya berkaca-kaca. Hari semakin larut, sebelum berpisah, “Satu hal yang aku yakini, bahwa tidak ada yang lebih membahagiakan, apapun itu di dunia ini; baju bermerk, makanan termahal, tempat tinggal mewah, seks yang hebat, atau kebalikannya, segalanya tak ada, sekali lagi, tidak ada yang lebih membahagiakan selain mata anak-anakku yang senantiasa berbinar ketika melihat ibunya pulang. Ibu itu tiang keluarga. Separah-parahnya bapaknya, selama tiangnya tetap tegak berdiri, rumah ini masih ada kehidupan.”

Angin dingin malam menghantar kepulangannya. Tapi cinta anak-anaknya adalah penghangat yang menenangkan.


Bengawan solo. Untuk sahabat tercinta. Kau selalu hebat.

Janji

Juni pagi, di hari Sabtu. 2013.

Pagi ini aku berjanji kepada seorang anak laki-laki berusia 11 tahun, bahwa aku akan melihat aksinya dalam sebuah lomba Marching Band. Ia akan tampil dalam beberapa jam ke depan, membawa drumnya yang bulat besar. Tadi malam ia sempat mengeluh pundaknya sakit dan kakinya lelah.

6.49.
Aku harus bergegas. Ini lebih dari sekedar menepati janji. Aku merasa ini akan mencetak jejak untuk masa depannya.