Long Road


sudah malam,grace..

i know, tapi masih ada beberapa hal yang harus kukerjakan. kalo gak selesai malam ini, aku bakal merasa gak bertanggung jawab…

pagi datang, aku masih di depan komputer. seorang teman baru saja datang dan terheran-heran melihatku. kamu kerja semalaman? Yup. Trus bis gini ke kampus? Yup. No Comment. kemudian ia berbalik arah menuju studio tempat dia harus menunaikan tugas pagi ini. tiba-tiba aku jadi diam. berpikir, flash back singkat tentang apa yang baru saja ia tanyakan padaku. tapi kemudian dengan segera aku menghentikan pikiranku. aku tidak mau ia terlalu berprediksi kemana-mana. aku bangkit berdiri, beranjak mengambil sepatu dan kemudian bergegas pergi menuju kehidupan.

semakin cepat langkahku, semakin banyak pikiran yang muncul, semakin banyak emosi yang keluar. aku berhenti sejenak, menatap ujung sepatuku. penuh debu dan sudah mulai kusam. terlalu banyak dipakai berjalan rupanya. perjalanan macam apa yang telah dilalui sepatu ini? waktu seperti apa yang ia gunakan untuk membuatnya menjadi kusam? atau..apakah matahari juga mampu membuatnya menjadi berdebu? kemudian aku melihat titik air kecil menetes disana, di ujung sepatuku. itu air mataku.

berapa kilometer yang telah tertempuh? aku tidak pernah bisa menjawabnya. manusia selalu melakukan perjalanan dalam hidupnya, melewati beberapa kelokan dan menempuh jurang, kemudian barakhir di lautan. dalam setiap perjalanan, ada saja yang ditemui, ada siapa saja yang dijumpai. tapi masih tidak tahu apa yang dicari. walaupun semuanya tau bahwa tujuan akhirnya adalah lautan. damai, indah, segar dan menghangatkan.

pagi ini, sambil menatap ujung sepatuku. aku berhenti berpikir tentang berapa kilometer yang kuhabiskan untuk menulis deretan judul-judul lagu di komputerku, atau menghitung berapa banyak kopi yang kuhabiskan dalam sebulan untuk menemani waktu lemburku. apakah semua terasa sia-sia? bisa jadi ya. mungkin jenuh sedang mengikutiku sekarang. tapi aku tidak peduli, toh nanti dia akan jenuh sendiri mengikutiku.

aku menatap ke depan, memandang jalan di depanku. masih ada kilometer-kilometer di depan yang tidak aku tahu. hidup tidak akan terasa lelah bila aku berjalan. namun akan terasa memilukan ketika tidak bisa merasa lelah.

pagi ini dengan sepatu coklatku, kuputuskan untuk terus berjalan : mencari halte berikutnya.

Advertisements

One thought on “Long Road

  1. Bagus sekali. Kontemplatif. Jadi termihik-mihik membacanya. Aku nggak pernah lo mikiri seberapa jauh udah berjalan, apalagi diilhami oleh sepsang sepatu. Tapi aku suka punya mahasisiwi yang kadang kontemplatif kayak gini. Jadi hidup gak cuma lahir, makan, jalan, terus kalo udah tua gedubrak mati. Tapi ada momen reflektif yang dicurahkan lewat blogging. Hm, sedap!

    Patrisius

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s