Titik Nol.


“aku menyerah. maafkan aku. aku tak punya kuasa.”

Waktu berputar belasan tahun ke belakang, ketika langit masih biru dan dedaunan gugur masih di tanah yang hitam.

Perempuan kecil sedang menggambar di atas kertas putih yang besar, melebihi badannya. Ia menggambar seorang laki-laki yang disebutnya ayah, dan seorang perempuan dewasa yang disebutnya ibu. Mereka berdiri berdampingan. Perempuan kecil ini asyik sekali dengan dunianya di kertas putih itu. Kemudian, seorang perempuan, yang lebih tua beberapa tahun datang mendekatinya dan bertanya,”Siapa itu?”. Perempuan kecil ini menjawab pelan,”Ini mama ama papa.” Perempuan yang berambut panjang itu, hanya tersenyum dan berangsur menjauh, membiarkan adik kecilnya tenggelam dalam fantasinya. Itu semua hanya fantasi.

Kayu menjadi lapuk, debu berserakan di atap-atap rumah. Suaranya berderak-derak sepertiĀ  buritan dihantam jangkar. Perubahan selalu meminta pengorbanan.

“Kamu bisa ceritakan apa yang terjadi?” tanya seorang Ibu yang mencoba mengasihani, begitu kukira. Aku hanya menggeleng, lantas menundukkan kepala. Ia melanjutkan kata-katanya,”Anak itu harus bisa jadi jembatan orang tua. Kalau orang tua ada masalah, anak harus bisa jadi penengahnya.” Aku tidak tahan. Aku pergi tanpa pamit, biar saja dia mau anggap aku tidak punya sopan santun atau apa. Karena menurutku, dia yang lebih tidak sopan, menasehati orang lain tanpa diminta, tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Jangan pernah sok tau! Urus saja keluargamu.

Bumi semakin tua. matahari semakin tua, namun sinarnya semakin panas. Seolah-olah ingin membelah bumi jadi berkeping-keping.

Perempuan kecil sudah ganti tokoh sekarang. Bukan perempuan kecil yang dahulu suka menggambar, suka menulis puisi, suka bermain sendiri, suka naik di atap rumahnya, suka mencari buah-buah kecil yang sampai kini ia tidak tahu apa namanya. Perempuan kecil sudah berganti menjadi sosok yang tidak bisa dikenali lagi. Tuturnya berubah, tatapannya berubah, bahasa tubuhnya berubah, senyumnya berubah dan pengetahuannya berubah. Tidak ada yang bisa mencegahnya, kecuali satu : ia terlalu penurut.

Mimpi merupakan awal dari penciptaan dan perasaan tidak mampu menjadi ujung tombaknya. Mungkin aku terlahir dari mimpi, tapi mungkin kurang sesuai harapan. Manusia seringkali menggantungkan harapan kepada manusia yang lain yang dianggap dimilikinya. Sehingga, ketika harapan itu kandas di tengah jalan, seperti panas menghanguskan cinta, seperti air menghanyutkan harapan. Semua terlihat gelap dan tidak beraturan. Kecendurangan manusia selanjutnya adalah, mencari yang lain. Sengaja menggantungkan ketakutan dan kekhawatiran di pundaknya dan berkata,”Kamu juga bertanggung jawab atas ketakutan dan kekhawatiran ini.” Siapa aku? Apa yang kutahu?

Alam diam. Tidak bersuara. Semuanya sendu dan biru. Menatap dan menanti apa yang aan terjadi selanjutnya.

Aku lelah karena tidak adanya kesempatan untuk tidak bertanya,”Kenapa harus aku?” Terdengar sangat tidak bijak dan kekanak-kanakan. Katanya manusia punya pilihan, katanya manusia punya keputusan, katanya manusia punya otak untuk berpikir, tapi semuanya nol. Aku memilih untuk bernafas, tapi oksigen yang harusnya kuhirup diserap habis hingga batas ambang normal. Apakah kau mengharapkan aku mati? Atau justru begitu khawatir akan kematianku?

Kekhawatiran adalah hal yang tidak terjadi. Kekhawatiran hanya seperti mambakar habis seluruh hidup yang kau punya. Kekhawatiran itu mematikan. Tapi sepertinya kau tidak tahu. Atau kau terlalu tahu sehingga sulit untukmu mengendalikannya? Apakah harus kugenapkan kekhawatiranmu menjadi kenyataan? Membunuh diriku sendiri. Agar genap segala kekhawatiran.

Semuanya menggenang, mengambang dan terlihat semu. Musim sudah mati.

“aku menyerah. maafkan aku. aku tidak punya kuasa.”

Advertisements

2 thoughts on “Titik Nol.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s