Beku


Aku menyapanya pagi ini. Senyumnya hangat dan ujung bibirnya mengisyaratkan sesuatu.

“Lama sekali..”

“Apanya?” tanyaku.

“Datangnya..”

“No.. memang begini setiap harinya. Sudah sarapan?” Ia menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya.

“Selalu..” Tak ada respon darinya. Kami melangkah beriringan seirama dengan detak jantung yang semakin lama semakin cepat, memainkan ritmenya sendiri. Kenapa detaknya begitu tidak bisa diatur kali ini? Kami tiba di tangga terakhir. Ini adalah ujung. Tidak tahu kapan lagi akan bertemu.

“Thank’s yah..” katanya tiba-tiba.

“Untuk apa?”

“Sudah menyapaku pagi ini.” Sembari berbalik dan meninggalkanku di anak tangga terakhir.

Ini bukan yang pertama dan esok tak kan sama. Aku melangkahkan kakiku menuju lorong seiring dengan detak jantungku. Aku tidak mendengar apapun setelahnya, hanya hembusan nafasku sendiri. Ini dingin, terlalu dingin. Otakku jadi beku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s