(Tidak Pernah) Benar-benar Kehilangan


Sore, sekitar pukul 3 lebih, hampir setengah 4. Tidak tahu tanggal bulan berapa. 2008

“Halo, selamat sore.. dari siapa ini?”

“Halo.. selamat sore, Grace..” sahut suara di seberang.

“Iya, dari siapa ini?”

“Saya dari Kusuma.” Lanjutnya. Saya bisa mendengar dengan jelas ia mengatakan namanya dengan tersenyum. Ah! Pendengar emang suka ngerjain penyiarnya.

“Mau lagu apa nih, Pak?”

“Lho kok dipanggil Pak, suara saya udah kedengaran tua to?” Tuh, kan. Yang satu ini memang jahil.

“Oh, kalo gitu dipanggil sapa dong? Kalo Bapak kan sopan.. Ya udah mau lagu apa nih, Pak?”

“Grace aja deh yang pilihkan. Atau.. saya mau.. Somewhere Over The Rainbow, ada?”

“Oke, ditunggu Bapak, terima kasih, ya..”

“Makasih, Grace.”

Kebal. Aku sudah kebal.

“Oke, sahabat sola, satu lagu yang diminta oleh Pak Kusuma, Somewhere Over The Rainbow, sambil saya terus menantikan Anda di 557000 atau juga di sms 0816 557000. Kolega, koleksi lagu nostalgia, sampai pukul 5 sore nanti..”

Saya naikkan panel lagunya, melepas headphone kualitas nomor satu ini, dan menggantungkannya di gagang microphone. Huff.. pendengar emang ada saja kelakuannya. Tiba-tiba dering telepon studio mengejutkan saya. Huh! Gak bisa on air, minta lagunya off air. Emang penyiar sebelumnya pernah bilang, ‘kalo siaran kolega mesti sabar, yang dihadepin tuwir-tuwir. ‘

“Halo?”

“Makasih ya lagunya..”

“Oh Pak Kusuma..”

“Kamu kuliah ya?”

“Iya, Pak..”

Entah hari apa, mungkin setiap hari. Sampai sekarang.

Menjadi penyiar bukan hal yang mudah. Sungguh. Tidak sekedar bisa ngomong di depan microphone, membuat joke-joke segar, atau mengangkat telepon pendengar yang minta lagu-lagu yang sebenarnya sudah sering mereka dengarkan. Lebih dari itu, menjalin hubungan maya dengan pendengar itu juga bukan hal yang mudah. Dulu saya pernah melihat seorang penyiar begitu manis meladeni fansnya ditelepon, mereka bercanda, terbahak-bahak, saling memuji, walau tidak tahu apa yang dipuji. Namun, ketika telepon itu terputus, tiba-tiba raut ketawa-ketawa itu sekejap raib entah kemana. Hlang begitu saja. Seperti tidak ada apa-apa sebelumnya. Semua hanya basa-basi.

Saya tidak mau jadi salah satu seperti mereka. Perlahan-lahan saya juga mempelajari dan menstratifikasi pendengar-pendengar saya, bahkan sampai kebutuhan mereka. Hingga pada satu kesimpulan, dimana kesimpulan itu merupakn satu resume tentang persamaan yang dimiliki oleh setiap pendengar saya terutama di acara ini: didengarkan. Ya, mereka hanya butuh telinga untuk mendengarkan suara mereka, celoteh mereka, pikiran dan uneg-uneg mereka bahkan sampai permasalahan mereka. Kadang ada yang minta ditanggapi, tapi sebagian besar tidak. Hanya ingin didengarkan. Saya kemudian berpikir, apakah begitu banyak orang yang dilanda kesepian?

Saya senang mendengar cerita-cerita mereka, celoteh mereka, omelan mereka, harapan, bahkan nasihat-nasihat mereka. Termasuk yang satu ini. Bapak Kusuma. Beliau ini humoris sekali. Punya istri satu dan putra lelaki satu. Kami menjalin hubungan baik sebagai pendengar dan teman pendengarnya, (sebenarnya saya yang ingin menyebut diri saya sebagai pendengar).

Ia bercerita bagaimana kehidupan telah membentuknya menjadi pribadi yang tangguh seperti sekarang ini. Saya sendiri yang menyimpulkan bahwa ia tangguh. Ia menderita diabetes cukup lama dan terbilang parah. “Saya punya suster lho, Grace. Biasanya tiap pagi sore datang kesini bersihin luka-luka saya.” katanya suatu ketika. Bayangan saya, sakitnya sudah cukup parah. Benar saja.

Merayakan Natal. Bulan Desember 2008.

Suatu ketika saya berkesempatan bertemu dengannya.

“Wah..ini keluar kamar pertama saya. mau liat acaranya ini lho..” wajahnya sumringah dan ketawa-ketawa kayak biasanya. “Tapi ya kalau gak pakai kursi roda ya gak bisa saya. ini anakku, Grace..”

Astaga! Mirip banget sama bapaknya. Begitu besar untuk anak seumuran dia. Saya melirik istrinya. Manis sekali. Ia pasti adalah ibu yang begitu sabar dan istri yang begitu setia. Saya melihat sedikit guratan-guratan di bawah matanya. Mungkin itu karena sampai larut menjaga Bapak, dan harus bangun pagi untuk bersiap menyiapakan keperluan pagi hari keluarganya. Guratan di wajahnya mengisyaratkan bahwa apa yang ia lakukan selama ini bukan karena rutinitas, tapi keinginan dan kesetiaan. Tidak demi apa-apa.

Satu hari di tahun 2009.

“Pokoknya kamu harus ingat, lebih baik jangan pacaran beda agama. Dan masalah terbesar anak muda adalah mengendalikan nafsunya.”

“Nafsu, Pak?”

“Iya.. nafsu apa aja.. Satu lagi, adalah penting bagi anak muda untuk merencanakan hidupnya. Segala sesuatu harus direncanakan..”

“Waduh, lagunya habis, Pak. Kita harus ngomong ini..”

Dengan sigap saya kembali ke tempat saya. Berhadapan dengan mixer dan komputer-komputer kotak, yang seperti tidak mau tahu apa yang terjadi. Pak Kusuma, Hendro Kusuma, yang kemudian menetapkan dirinya dipanggil Hendro, awal tahun ini menjadi pembicara tetap di salah satu program malam. Duet bareng saya. Kami sering sharing. Saya sering numpahin petanyaan-pertanyaan yang saya anggap tidak penting, tapi ternyata menjadi begitu bermakna ketika saya mendapat jawabannya dari beliau. Saya tahu betul, kesehatannya berangsur baik, kemudian memburuk, sesekali datang dengan kursi roda, tiba-tiba telepon tidak bisa datang siaran karena fisik yang melemah. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa mendoakannya dari studio dan menyapanya di udara.

Akhir 2009

Minggu-minggu berikutnya saya tidak mendapati suasana yang sama. Saya yang memutuskan demikian. Saya resign dari radio. Meninggalkan semua tetek bengek radio yang begitu saya cintai, melanglang buana kemana pun saya inginkan. Melupakan semua yang pernah beliau sampaikan kepada saya. Kami tidak pernah berbincang.

Sampai suatu hari yang terik. Panas begitu menyengat, tapi saya seperti tersambar petir dua belas kali. Saya kembali ke radio. Saya tidak bisa meninggalakan mixer yang penuh debu dan keyboard komputer yang kuas pembersihnya suka saya pakai membersihkan karpet di meja siaran. Saya tidak bisa meninggalkannya. Begitu pula dengan relasi saya dengan Pak Hendro. Memang ketika saya berpijak melangkahkan kaki semau saya, beliau masih beberapa kali menelepon dan sms saya. Masih ada kontak. Hanya masih, tidak lebih.

Beberapa jam yang lalu

“Pak Hendro itu, waktu telepon kamu di radio itu, pas parah-parahnya. Karena dia harus tidur di tempat tidur terus. Kan gak bisa jalan. Itu kakinya sudah mau diamputasi. Tapi dia nggak mau.”

Saya terdiam. Dan seketika pikiran saya ditarik ke belakang, menyusun setiap detil waktu sore itu. Saya ingat.

“Nah, waktu itu, kami sempat khawatir, karena itu parah-parahnya. Tapi ya gitu, tetep aja guyon. Waktu itu pertamanya telpon ke Grace ya? Saya pikir, ini ngobrol ama siapa, kok begini akrabnya, saya pikir sama mahasiswa, ternyata sama penyiar.. hahahaha.. trus ama Shinta juga ya, sering telpon ya?”

Ibu nenelan ludah.

“Kemarin malamnya bilang, ‘Pokoknya acaranya 5 hari aja. Kebaktian hari minggu gak papa. Tapi acara H-nya jangan hari minggu. Tempatnya bikin di Jalan Tenaga situ aja..’ bilang gitu. Hendy aja sampai bilang, ‘Papa ini semua kok sampai segitunya disiapin.. ‘”

Saya menahan sekuat tenaga agar air mata saya tidak meleleh.

“Saya temui tamu yang lain dulu, ya?”

Saya mengangguk pelan. Menarik nafas panjang. Kemudian menenggelamkan diri dalam hingar bingar tidak penting lainnya.

Pagi tadi. 5:57 WIB

Saya membaca lembar pertama naskah di atas mixer. Saya menekan tombol microphone, menunggu backsound mengalun, sambil tersendat dan menahan serik di tenggorokan,

“Sahabat sola, kami mohon perhatian Anda sejenak untuk kami sampaikan berita keluarga.” Saya menaikkan sedikit panel lagu.

“Telah dipanggil pulang ke rumah Bapa di surga, pada hari Kamis, 2 September 2010 pukul 5.25 menit di rumah sakit Panti Nirmala. Jenazah akan disemayamkan pada hari Selasa dengan waktu yang akan dikabarkan selanjutnya. Ibadah penghiburan akan dilaksanakan mulai hari Kamis sampai hari Selasa pukul 18.00 WIB di rumah Gotong Royong, Jalan Tenaga. Kiranya keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan pengiburan. Amin”

Saya menakan tombol mute untuk microphone dan membiarkan lagu mengalir sesukanya.

Sekarang.

Saya betul-betul menahan tangis ketika Ibu bercerita bagaimana awalnya Pak hendro mengenal radio dan saya. Saya jadi teringat dengan semua perbincangan mengenai keimanan dan pengetahuan seputar Alkitab yang pernah ia bagikan kepada saya. Saya seketika juga menjadi ingat bagaimana ia setuju dan tidak setuju dengan beberapa keputusan yang pernah saya buat. Tapi sama sekali tidak pernah memarahi saya. Ia menunggu hasilnya, dan ketika saya kembali dengan membawa hasil yang mengecewakan, ia hanya tersenyum dan menyatakan fakta-fakta. Dari sana saya juga menyelam dan mengambil sari-sari kehidupannya. Saya belajar bagaimana seorang hamba Tuhan, yang tidak hanya melayani ketika dalam keadaan utuh, tapi dalam segala kekurangan tetap setia mengikut Tuhannya. Saya juga belajar bagaimana mengucap syukur atas apa yang diberikan kepada saya. Saya juga terkesima dengan apa yang dilakukan Ibu kepada suaminya. Saya belajar banyak hal tentang perempuan dan istri darinya. Kehidupan mereka meyakinkan saya, bahwa proses menuju kematian lebih penting daripada kematian itu sendiri. Walaupun, kematian adalah pintu gerbang untuk kehidupan yang berikutnya. Keluarga ini membukakan perspektif baru dalam jiwa saya.

Saya pulang ke rumah membawa sejumlah airmata tertahan, gelak tawa yang terpecah di sela-sela kain hitam. Permintaan maaf yang tidak sempat diucapkan, apalagi perpisahan. Saya melangkahkan kaki menuju pagar rumah, tiba-tiba sebuah pesan di telepon selular saya berkedip. Sebuah pesan dari seseorang yang saya tunggu. Saya membalasnya, ‘Ibu cerita banyak sekali. Dan setengah mati aku menahan air mata. Ibu aja gak nangis , aku kok nangis. I’ve lost him..’

Tenggorokan saya serik, air mata menitik.

Untuk Pak Hendro. Sebuah inspirasi.

2 Timotius 4 : 7 “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

Sampai jumpa di surga, Pak..

Advertisements

6 thoughts on “(Tidak Pernah) Benar-benar Kehilangan

  1. sebuah pertemuan yang memnag diciptakan oleh alam. terkadang memang kita tidak memahami simbol-simbol yang diberikan disekitar kita. dan untuk simbol itu sudah seharusnya kita menjadi sasmita – kemampuan menerjemahkan pertanda. sering kali simbol itu datang tanpa diminta, ujug-ujug, bahkan tidak kita senangi sekalipun. dia bisa berwujud mimpi, bisikan hati, kejadian-kejadian disekitar kita ataupun berwujud manusia. simbol berupa manusia lebih tepat adalah penuntun bagi kita – pak Hendro.
    grace telah mengenalnya…tidak lebih dari sebuah rekayasa….tapi sebenaryata tidak..sama sekali tidak. tidak perlu ada kesediahan…tersenyumlah untuk Dia yang sekarang sudah bersemayam, duduk disamping Sang Penulis sejati. di alam al-Arsy-Singgasan Tuhan.

  2. 1 Tulisan Spektakuler Tentang Hubungan Antar Sesama Mahluk Hidup Telah Lahir..
    Tulisan Itu Berjudul “Tidak Pernah” !!!
    .
    Syallom..
    .
    Apa Kabar Maria? 😀
    Hari Ini, Stlh Sdh Lama Tidak Membaca Tulisan Hasil Karya-mu,
    Tin Memutuskan Untuk Duduk Walau Berjam-jam Disini,
    Smbil Membaca Smua Tulisan2 Maria Dan Juga Mencoba Meresapinya.
    .
    Ada Kepuasan Tersendiri Stlh Semuanya Tin Baca..
    Menurut Tin..
    Hanya Ada 2 Tulisan Yg Mampu Membuat Tin Tersadar..
    Bahwa Dikehidupan Ini,
    Kita Benar2 Dihadapkan Pd 2 Sisi Mata Uang Yg Berbeda.
    .
    Tulisan Kamu Yg Berjudul “Tidak Pernah”
    &
    Tulisan Kamu Juga Yg Berjudul “Semua Ada Masa-nya”
    .
    Secara Tdk Langsung Dari Judulnya Saja,
    Tlh Membuktikan Hal Tentang 2 Sisi Yg Berbeda Itu. 🙂
    .
    Tanpa Mengurangi Rasa Hormat,
    Dari Smua Tulisan Yg Sdh Maria buat,
    Tin Benar2 Hanya Menyukai 2 Tulisan Kamu 🙂
    .
    Tetapi Diantara 2 Itu..
    Tin Entah Knp Lebih Suka Ke Tulisan Yg Berjudul “Tidak Pernah”..
    Untuk Dijadikan Pemenang Pertamanya Versi A..
    Dan Tulisan Yg Berjudul “Semua Ada Masa-nya”
    JUGA HARUS Menjadi Pemenang Pertamanya Walaupun Hanya di Versi B
    Hahaha..
    .
    Pesan Tin Buat Kamu Hanya 1 🙂
    Selagi Kamu Masih Merasa Mampu,
    Jangan Jadikan Alasan “Semua Ada Masa-nya” Itu..
    Menghalangi Talenta Yg Masih Terpendam Didalam Diri Kamu.
    Mudah-mudahan Tin Msh Bs Mlihat-mu Lebih “Mengkilap” Dari Yg Skrng
    .
    Mmm..
    “Tidak Pernah” Kataku..
    “Semua Ada Masa-nya” Katamu..
    “Tidak Pernah” Kataku Lagi..
    “Semua Ada Masa-nya” Katamu Mencoba Meyakinkan Aku..
    “Tidak Pernah”, “Tidak Pernah” & “Tidak Pernah” Kataku Sambil Menyudahi Tulisan Ini !!!
    .
    Pamit Ya..
    JLU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s