Selibat


“Selibat..” Tiba-tiba seorang teman mengatakannya sementara kami sedang menikmati udara sore di teras rumah, ditemani dengan secangkir teh hangat. Saya hanya menoleh padanya, dan mengernyitkan dahi. Sama sekali tidak mengerti.

“Iya, selibat. Gimana ya rasanya selibat?” lanjutnya. Waduh! Kesambet apa ini? di sore yang hari yang penuh kedamaian begini, tiba-tiba ngomongin soal selibat.

“Nggak tahu, nggak pernah..astaga..jangan sampailah..” sambung saya seraya mengetokkan kepalan tangan saya di pundak kursinya.

“Kok jangan sampai? Apa yang salah dengan selibat?” Saya jadi ikutan mikir, ‘iya, ya..apa yang salah dengan selibat?’

Dalam keluarga saya, sepertinya persoalan selibat-selibatan ini jarang dibahas. Kami lebih senang membahas tentang relationship, amarah, dendam, pengertian, toleransi, well-baiklah, feminisme. Yang terakhir ini hampir selalu jadi topik menarik bagi kami untuk didebatkan. Saya tidak mau bahas hubungan selibat dengan feminisme. Terlalu rumit! Tapi yang jelas, saya memang tidak pernah berpikir tentang selibat. Walau kadang, suka bercanda dengan beberapa teman karib soal kata ini.

Bagaimana ya, jika saya selibat? Ya, nggak gimana-gimana. Biasa saja, ya selibat. Itu sama saja, jika ada yang bertanya, ‘Bagaimana ya jika saya menikah dan kemudian bersuami?’ Ya, jawabannya sama, nggak gimana-gimana, biasa saja, ya menikah.  Namun untuk persoalan yang satu ini nampak sedikit berbeda. Ketika saya masih memikirkan budaya di lingkungan saya, yang agak aneh kalo melihat orang selibat. Kemudian nanti ibu-ibu sebelah mulai menggunjingkan di sela-sela waktu mereka memilih sayur-sayuran tentang status ini, ‘Umurnya udah cukup, nggak nikah-nikah’, ‘Udah kasep, Bu,,Ketuaan’, atau bisa juga, ‘Kayaknya lesbi ya?’ Saya semakin tidak menemukan jawab atas pertanyaan saya. Memang nggosip itu sama sekali nggak solutif.

Sebagai perempuan, jika selibat mungkin ketakutan terbesar adalah bagaimana punya anak dari darah dan daging sendiri. Sebagai perempuan, kami pasti merindukan memiliki bayi-bayi yang lucu yang keluar-mak brujul dari vagina kami. Mungkin begitu. Saya belum pernah. Namun, beberapa perempuan ketika ditanya tentang selibat, mereka menjawab trauma dengan pasangan terdahulu, dan memilih selibat daripada menjadi lesbian. Padahal, biar selibat, tetep juga bisa jadi lesbian diam-diam.

Saya jadi membayangkan, apabila saya mewawancarai seorang selibat akibat trauma, mungkin begini jadinya:

“Jadi apa yang memutuskan Anda untuk selibat?”

“Karena saya trauma.”

“Bisa Anda jelaskan?”

“Dia mengkhianati saya. Dia terang-terangan main gila di depan saya. Bisa Mbak bayangkan? Dia mengajak teman kencannya, dan bercinta di kasur yang juga dia pakai untuk melucuti saya tiap malam. Apa beda saya dengan perempuan itu? Hal ini tidak terjadi pada saya saja. Tante saja pernah mengalaminya. Kemarin saya menonton televisi, seorang istri tega membunuh suaminya gara-gara hal semacam ini, bahkan, sinetron favorit saya juga mengambil tema yang sama. Daripada saya berdosa dengan melakukan hal-hal yang ditentang oleh agama, jadi lebih baik saya selibat.” Perempuan ini berderai-derai airmata.

“Oke, saya tidak mau menyinggung soal agama. Tapi bisa jelaskan pada saya, sebenarnya, ketika Anda memilih selibat, apakah Anda hanya memutuskan untuk tidak hidup berpasangan dengan lawan jenis, atau bahkan Anda menolak perasaan cinta atau menyukai lawan jenis?”

“Ada tisu, Mbak?”

“Oh ya, ini..”

“Saya memilih selibat, karena saya trauma. Saya tidak mau kenal lagi dengan laki-laki. Cukup sudah pengalaman mengajarkan saya. Saya menjadi bijak karena pengalaman, dan saya tidak mau terjebak untuk yang kedua kali.”

Saya beranjak dari tempat duduk saya dan menyilakan perempuan itu mengambil waktunya dan meninggalkan ruangan. Aneh. Sungguh aneh. Sebaiknya jangan pernah beralasan trauma untuk berkeputusan menjadi selibat.

Saya meninggalkan teras tempat saya bercengkerama dengan teman saya tadi. Namun, tepat di ujung pintu menuju ruangan berikutnya, ia kemudian berucap,

“Sepertinya selibat ada hubungannya dengan rutinitas kelamin.”

“Ha???”

Advertisements

2 thoughts on “Selibat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s