Atas Nama ‘Beban Berat’


Hari ini dia pakai sepatu baru yang bagus. Coraknya menarik. Cocok sekali di kaki mungilnya. Hari ini dia pakai kemeja putih, dilihat dari bahannya, pastilah mahal harganya. Dia menenteng tas dengan motif mentereng, sekaligus merknya. Tidak tau apa nama corak seperti itu, tapi tidak cocok saja dengan sepatunya.

Langkahnya tegas, senyumnya mengembang, dan dagunya agak mendongak sedikit. Rambut hitam legam berkipas-kipas ke kiri dan ke kanan. Dia bahagia: suami  yang ganteng serta mapan, karir yang jejeg, finansial yang stabil, kebutuhan dan fasilitas yang tercukupi.

Dia merangkak naik menuju atas. Ada sesuatu yang menantinya di atas. Proses panjang tidak membuatnya gentar. Ia kenal air mata, ia kenal tubuh lelah, ia kenal senyum palsu, ia kenal tatapan jahil, ia kenal apa yang dipakainya, dan tentu saja dengan sadar -ia kenal ia menggandeng tangan siapa.

Di hari berikutnya. Ia tampak sempurna seperti biasa. Tiba-tiba satu pesan di akun situs jejaring saya bertanda:

Sudah hampir seminggu aku gak ketemu dia. Tolong kabari dia, aku tunggu dia di sini. Sekarang.

Aku pergi meninggalkan mejaku. Menghapus nomor-nomor telepon tidak penting dalam selularku, dan melanjutkan berjalan menuju loker tidak bernama. Di dalamnya aku melihat pengorbanan, air mata, rasa lelah, keringat, dan sakit hati yang terbeli oleh selembar pemuas kebutuhan dan keinginan.

Atas nama ‘beban berat’, katanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s