Pagi dan Segelas Susu


Aku bangun bukan karena sinar matahari yang datang berjingkat masuk melalui lubang-lubang jendela. Aku terbangun ketika jiwa singgah pada peristiwa-peristiwa senyap. Ia melompat-lompat di atas prahara itu dan menginjak-injak kepalaku untuk terjaga segera.

Aku tidak punya apa-apa untuk mengingatmu. Bahkan untuk membenci, aku tidak berdaya. Angin tidak membawa kabarmu, apa yang kau lakukan, apa yang kau rasakan, dengan siapa kau berjabat tangan hari ini. Itu tidak penting. Namun, menjadi begitu menyiksa ketika harus angkat kaki dari ingatan ini.

Karena remang senja tidak pernah datang pada pagi. Jikalau pun pernah, kita tidak pernah bisa menyalahkan alam. Bahkan ketika hujan menjadi peluh kita.

“Tolong! Cuma otak bukti otentik bahwa kamu pernah di sini,” teriakku pada segelas susu coklat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s