Harusnya Aku Mengerti


Harusnya aku mengerti bahwa ini tidak sama lagi. Namun sebenarnya aku mengerti, tapi aku berpura-pura tak mengerti.

Kemarin jiwa kami duduk berdampingan. Ia menceritakan peristiwa yang ia temui sepanjang perjalanannya menuju ke mari. Ada yang sedang menangis, ada yang tidak bisa menahan keinginan, ada yang lari dari kenyataan, ada juga yang berusaha meyakinkan dirinya, bahwa hidup dan kejadian yang ada di dalamnya adalah baik-baik saja.
Jiwa ini duduk di sebelahku, menatap mataku, dan memintaku untuk memasukkan aroma ceritanya ke dalam rusuk-rusukku. Dan aku melakukannya dengan senang hati, dan menjadi salah satu peristiwa dalam perjalanannya; berpura-pura tidak tahu konsekuensinya.

Kali ini, jiwa itu diam. Bukan kehabisan cerita. Hanya saja, ada suatu saat, dimana detik berdetak begitu kencang sehingga memecahkan lamunan. Serta merta mencelikkan sesuatu yang terlanjur terjadi. Hingga kini cuma bisa diam. Tidak membalas, tidak menunduk, namun juga tak bisa beranjak. Mungkin terlalu sungkan.

Sebenarnya bukan waktu yang merubah seseorang, tapi apa yang kita lakukan itulah yang menentukan arah perubahan kita. Tidak jadi masalah jika harus sekarang. Walau aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk menangis, apalagi untuk berkata,”Jangan..please..”

Seorang gadis duduk di teras dengan pandangan kosong, sambil memeluk buku,”Pergilah terbang bersama Debu dan hiduplah..karena aku tidak pernah berkata cinta.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s