Surat Terakhir Maria


Maria menulis surat perpisahan kepada pasangan jiwanya, karena perwujudan cinta mereka adalah sesuatu yang tidak benar.

 

Alfonso,

Aku harus mengatakan ini padamu, walau kita tidak pernah sepakat untuk membicarakannya. Aku begitu lemah, Alfonso. Kukira kau mengerti ini. Aku ini juga perempuan yang berprinsip dan bergerak sesuai dengan prinsip. Termasuk mencintaimu.

Alfonso, sejak pertemuan kita saat itu. Aku telah membayangkan resiko yang paling buruk. Dan sebenarnya aku tidak khawatir akan apa yang harus terjadi padaku. Aku hanya mengkhawatirkan apa yang akan terjadi padamu. Bukan bermaksud menganggapmu lemah, namun keberlangsungan hidup beberapa orang terletak pada bahumu.
Memang benar, aku memikirkan mereka. Mungkin salah, mungkin kau tak suka. Tapi aku tak kuasa, aku perempuan. Dan aku begitu manusia. Aku tidak berhak memiliki secuil pun dari padamu. Termasuk kecupanmu.

Alfonso, waktu tidak pernah berkompromi dengan manusia, bukan? Tapi ia selalu berpihak pada kita. Namun waktu juga tidak pernah ingin disalahkan atas alasan dan upaya pembenaran manusia dalam hal apapun. Hanya satu yang ku tahu, bahwa dalam waktu aku mengenalmu, bukanlah kebetulan. Dalam waktu itu aku mengerti sesuatu. Dalam waktu itu aku bergelut dengan kehidupan.

Kehidupan akan selalu sama, dan kita akan menjadi pribadi yang berbeda. Semua cuma soal adaptasi. Termasuk ketika tidak lagi menyentuhmu. Walau katamu, untuk keadaan manusia kita sekarang ini, pertemuan fisik adalah puncaknya. Dan pertemuan jiwa merupakan awalnya, yang bisa jadi abadi. Keyakinan inilah yang menguatkanku, bahwa ketika aku menderita karena fisik, tapi pertemuan jiwa kita sampai mati, sampai raga mengering.

Alfonso, aku tahu kau bisa menerimanya. Aku yakin ketika kau membaca surat ini, kau mengangguk pelan dan tersenyum penuh pengertian. Karena kau tahu, ini bukan soal ketegaan kita pada hidup. Tapi soal kemurnian dalam hidup. Kau ingat, betapa murni Fatima sehingga ia dapat mengirim sebuah ciuman kepada Santiago melalui angin padang pasir. Terlepas Santiago akan pulang kembali ke oase itu dan menemui Fatima di sana.

Hari mulai merapat menuju pagi, aku harus mengakhiri surat ini.

Terima kasih, Alfonso. Aku membiarkan angin padang pasir membawaku ke mana pun ia pergi. Dan dari kejauhan, izinkan aku menatapmu menjalani peristiwa demi peristiwa. Tuhan yang empunya semesta memberkatimu pun kehidupanmu, Alfonso. Kau, dan orang-orang yang mencintaimu.

Salam,
Maria


Maria mengatupkan kelopak matanya. Air matanya berubah jadi permata. Ia mengikat lembaran-lembaran ini pada kaki merpati, kemudian melepaskan merpati itu ke udara bebas. Seperti melepaskan perasaannya ke langit-langit. Membebaskan jiwanya untuk terbang meraih Matahari. Ia yakin Alfonso juga akan melakukan hal yang sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s