Meringkuk


Cangkang telur ini utuh. Bersih tak bernoda. Aku mengendap-endap meraih menyentuh kulitnya. Aku terlalu asyik berenang, sehingga lupa di mana kuletakkan baju-bajuku. Aku terlalu lama menyelam, sehingga tidak ketemukan kapan laut pasang. Seketika ombak menghantam, menghembuskan tubuhku pada karang-karang tajam. Ia biarkan aku berdarah agar aku ingat sesuatu. Ombaknya menggulung lagi, aku menjerit perih. Goresan-goresan ini tidak kebal, bahkan aku bertanda. Kali ini, aku dihantar hingga pantai. Aku tidak bisa merasakan di mana aku berada. Aku meraih-raih cangkang telur yang bersih. Keinginan hati menjadi telur kembali. Telanjang meringkuk dalam rongga yang dingin. Tak bawa apa-apa, karena tak memiliki apa-apa. Aku terlelap dalam dingin, “Terima kasih,Ombak.. Kau ingatkan aku satu hal, bahwa aku adalah tiada.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s