Teras


“Kehidupan memang selalu menempa kita menjadi pribadi baru. Setiap hari kita berubah. Kau sadar itu?” Suaranya berat, menerpa hujan yang semakin deras turun malam itu. Teras belakang rumah terasa lebih hangat dari hari-hari sebelumnya. Entah karena ada kau di sini, ataulah hanya perasaanku saja.

“Tidak. Kita manusia tidak menyadari perubahan, karena kita begitu mudah beradaptasi, sehingga terkadang kita tidak menyadari bahwa alam bawah sadar kita sedang berkompromi pada keadaan.” Aku meneguk teh hangat yang mulai mendingin. Cuaca memang tidak bersahabat, hujan sepanjang tahun berakibat aku lupa musim. Musim apa ini? Hujankah? Kemaraukah? Musim kawin!

“Kompromi dengan keadaan? Oh, come on.. Ingat Bi Sri bilang, bukan waktu yang atur kita, tapi kita yang atur waktu. Sama rumusnya ketika kita harus menghadapi keadaan. Cuma sekarang begini saja, ketika kemudian apa yang kau lakukan di luar kesadaranmu, tapi kau menganggapnya ini dalam kesadaranmu, kemudian ketika semua menjadi semakin buruk, kita seringkali menyalahkan keadaan. Gimana? Ingat kemarin kita nonton infotainment? ‘Kalau ini memang sudah jalannya, ya saya jalani aja’ Ingat?? Si artis ngomong gitu untuk masalah perceraiannya lho!” Matanya berbinar, lupa kalau percikan hujan tetesi wajahnnya.

Aku tersenyum kecil, mendekatkan ujung hidungku ke bibirnya. “Aku suka sekali aroma nafasmu yang begini, ada kopinya, ada tembakaunya, ada.. ngototnya. Hahahahahahaha..” Dia cemberut, mutung pidatonya dimentahkan. Aku lantas melanjutkan, “Ah, sekarang kalau aku meninggalkanmu, kemudian kau tanya, ‘kenapa?’ lantas ku jawab, ‘karena keadaan’. Lantas kau bertanya kembali, ‘keadaan seperti apa?’, ‘Keadaan seperti ini, aku tidak tahan.’ Kau ngotot tanya, ‘kenapaa?!!’ aku jawab saja, ‘karena aku ingin.'”

Kau mendekatkan tubuhmu merapat, “Karena aku juga ingin. Aku sengaja buat keadaaannya jadi begini.”

“Tapi, maaf.. Saya tidak mau dikendalikan oleh keadaan..”

Kau memelukku rapat. Kita berdua diam. Aku mendengar detak jantungmu berdetak lebih kencang seperti berkata, “Aku tahu siapa kamu.”

Hujan semakin deras, dan kita terlelap.

 

Advertisements

One thought on “Teras

  1. Percakapan diri yang menarik. Dan ak tau sedang bicara dengan siapa kau anak rongga. Dan kau masih saja dengan percakapan hujan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s