Jangan Cepat Kembali


Kabut tidak kelam, namun kelabu. Seperti selembar kelambu di malam pertama. Beraroma ketakutan bercampur geli. Karena perawan selalu ingin tahu.

Pagi yang dingin, awan menyelimuti pegunungan di timur sana. Seperti enggan bangkit, ingin terus terlelap dalam dada perawan yang telah diperawani semalam. Aku memandangnya dari selatan sini. Tidak berharap menemukan wajahmu di antara bias matahari yang semakin meninggi. Namun sebaliknya; pergilah dan jangan cepat kembali sebelum kau menemukan dirimu di sana, dalam alam yang mengerti kebutuhanmu, karena pulang dengan membawa dirimu seutuhnya adalah titipan semesta.

Perawan bangun dari mimpi lelapnya. Tidak ada lelaki di sampingnya, hanya sebuah pesan beraroma tembakau. Entah sisa sejak kapan.

Advertisements

4 thoughts on “Jangan Cepat Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s