Sudah Tiba Saatnya


Sambil terbatuk-batuk seorang teman melangkah masuk. Wajahnya muram, rambutnya terlihat dingin karena udara luar. Terlihat aneh ketika ia tidak menghisap rokoknya. Seperti ikan dalam akuarium keruh. Aku tidak memalingkan pandanganku hingga ia berdiri di depanku.

“Sungguh! Kalo gak perlu banget, mending jangan keluar. Dingin sekali!”

Aku menarik kursi malas di sampingku,”Duduk sini..”

“Ada kopi?”

“Sure.” Aku beranjak dari kursiku. Lantai malam ini dingin sekali. Dapur juga jadi lebih dingin dari biasanya.

“Kamu jadi pergi besok?”

“Jadi. Mau nitip sesuatu?” jawabku sambil meracik kopi kesukaannya.

“Em.. Apa ya? Ada apa di sana?”

“Di sana terkenal..”

“Ah! Aku tahu! Gelang kerang-kerang itu ya.. atau, pokoknya jangan makanan, Ah, terserah aja sih..”

Angin menggertak jendela, membuat kopi ini terasa lebih cepat dingin.

“Ingat cangkir ini?” ujarku seraya meletakkannya di pinggir meja.

“Ya! Ini dari.. dari mana ya?”

“Hahahahahahaha.. Jadi nitip apa besok?”

Seketika aku melihat pandangannya berbeda. Ia menatapku dalam, seperti sedih, atau entah apa. Tangannya merambat di pahaku. Ia mendekat dan menghirup aroma leherku. Aku diam.

“Kamu akan kembali ke sini, aku tahu itu.”

Aku tersenyum. Ku kecup pipinya, lantas berdiri mendekati lemari buku.
Aku menatapnya dari sudut ini. Aku tahu bahwa ketika dia tidak begitu peduli dari mana asal kopi itu, tapi aku yakin bahwa ia tahu di mana hatinya berada. Atau ketika ia lebih senang gelang kerang, ketimbang makanan, aku tahu, itu tidak penting.
Aku tahu, suasana emosinya sedang tidak cukup baik malam ini.

“Ya. Tapi mungkin lama. Aku tidak tahu.”

Nafasnya tersengal, seperti menahan dingin.

“Gak apa.. Asal jangan berubah.”

Matanya membening. Rautnya pedih. Angin terus menggertak jendela. Suaranya berderak-derak menghitung peristiwa jeda ini. Lantai semakin dingin. Aku menatap matanya. Berenang dalam suasana hatinya, yang mungkin tidak pernah lagi akan kualami. Rasanya begitu dalam, hangat, dan perih. Lantas berubah menjadi dingin dan beku.  Aku menghela nafas panjang dan beringsut menuju peraduan. Meninggalkannya sendiri menatap punggungku hilang ditelan bayangan. Sudah tiba saatnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s