Komentar


Surat elektonik notifikasi beberapa kali berbunyi di telepon pintar saya. Namun karena saya masih harus mengerjakan hal lain, saya tunda untuk membukanya. Selain itu, saya pikir, ah..paling juga notifikasi untuk kasih tahu saya kalau ada yang komentar di status facebook atau notifikasi lainnya. Terdengar agak tidak penting.

Saya masih asyik dengan kegiatan saya: nonton Kompas tv. Tercengang-cengang dengan preview program-programnya. Greeting tokoh-tokoh Indonesia untuk Kompas TV saja sudah menginspirasi, apalagi tayangannya.

14:23. Sudah semakin sore. Waktunya bersiap dan bersegera untuk aktifitas di luar sore ini; fitting baju di penjahit, beribadah minggu di gereja, dan bertemu teman-teman lama sesudahnya. Saya sempatkan diri, berniat menghapus email yang sudah notice saya dari tadi.

Ah, benar kan? Ini ada seseorang yang komentar di status kawan saya, yang beberapa jam yang lalu, saya pun sempat meninggalkan komentar lucu di statusnya, dan menurut saya statusnya pun lucu. Biasanya, kalau ada komentar dari orang lain yang tidak saya kenal, serta merta saya menghapusnya. Sore ini, tergerak saya untuk membacanya.

Teman dari teman saya wrote, “Hari gini keburu married dan ceroboh memilih istri bisa bernasib spt sodara sepupuku (sepupuku lulusan S3 salah satu universitas di Inggris,), istri berpendidikan tinggi (istri sepupuku = dokter). Sepupuku bela-belain milih istri cewek Indonesia karena dipikirnya setia dan nerimo, eh gak taunya…Sudah difasilitasi rumah mewah, sedan pribadi, dan uang belanja Rp 18 juta per bulan, eh masih selingkuh juga dengan sopir pribadinya (yang ternyata pacarnya dulu waktu SMA)…Hm.. Jadi para pria berhati-hatilah, gak semua cewek bertampang alim punya hati yang alim, bisa-bisa tertipu spt sepupuku itu… PDKT 1 – 2 tahun belum menjamin bahwa kita mengenal seseorang luar dalam, memilih istri bagaikan membeli kucing dalam karung atau membeli lotere, kalo pas dapat yang pas wajib bersyukur kalo pas dapat yang busuk, berarti “Anda belum beruntung, silahkan coba lagi…dan lagi…dan lagi..dan lagi… sampek beruntung” Jadi kalo seorang pria bolak balik ketahuan gonta ganti pacar, belum tentu dia pria playboy, tapi mungkin tiap dapat pacar, si ceweknya ternyata berhati busuk… *Just my humble opinion*”

Saya agak tercengang, sedikit tidak terima, dan hampir tergelak sesudah membacanya 3 kali. Apa yang ada di pikiran saudara ini?

Saya pikir, kadang orang Indonesia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi pada bangsanya. Apakah sesuatu ini benar-benar karakter atau hanya stereotype saja. Termasuk perempuan Indonesia, (yang menurutnya) berkarakter setia dan nerimo. Atau jangan-jangan, dia sedang tidak terima dengan apa yang terjadi pada perempuan Indonesia masa kini? Bukan bermaksud bilang, “Itu sebaliknya, Bung!” Karena jelas, saya tidak boleh generalisasi perempuan. Namun, dibalik semua alasan budaya atau stereotype itu, jika sepupu saudara ini memilih sang perempuan dengan alasan karena perempuan Indonesia itu setia dan nerimo, -sayang saya tidak bertemu dengannya sebelum dia menikah- saya pasti akan bilang padanya,”Itu sama saja kau menikahi pikiran dan keinginanmu sendiri, bukan Mbak dokter itu.”

Lantas, kembali saya tercengang dengan kata-kata berikutnya, 18 juta per bulan. Hey, ladies.. This is your time! Siapa yang tidak mau punya tas Hermes Birkin bernilai hampir 10 juta dan kau bisa membelinya setiap bulan. Atau sepatu VB yang tiap bulan kau bisa dapatkan dengan model yang sama, namun kau bisa mengkoleksi 12 warnanya dalam setahun. Haha! Tapi, jika itu yang benar terjadi, saya juga tidak jamin kelanggengan hubungan perempuan yang seperti ini dengan pasangannya. Bukan karena dirinya, namun pasangannya telah mengajarkan demikian, “Bahagiakan dirimu dengan uangku. Aku baru bisa bertemu denganmu Sabtu minggu depan.” Case closed. Kita semua tahu endingnya. Uang jelas tidak dapat membeli bahkan menyelesaikan apapun!

Ternyata saya tidak berhenti tercengang dengan pemikiran berikutnya, ‘memilih istri seperti membeli kucing dalam karung’. Astaga! Saya hampir tidak bisa berkomentar. Jelas saudara ini, tidak tahu apa yang ia katakan. Saya pun setuju, jika 1-2 tahun penjajakan, tidak menjamin saya akan benar-benar akan tahu seluk beluk pasangan saya. Namun, ketika saya sudah memutuskan untuk menikahinya. Komitmenlah sesudahnya. Tidak peduli karakternya. Lha, kalau karakternya tidak berkomitmen?? Haha! Komitlah pada komitmenmu sendiri, alias, yo trimo en, ngono iku bojomu! Hahahaha.. Lagipula, sungguh, apa yang terjadi pada pasangan kita, secara langsung atau tidak langsung merupakan akibat seperti apa kita perlakukan dia. Kita sendiri adalah jawabannya. Sekali lagi, saya tidak bisa berkomentar tentang pemikirannya yang satu ini. Saya hanya bertanya dalam hati saya, “Sebenar-benarnya, seperti apa anda memandang dan memaknai kehadiran serta sosok perempuan di dunia?”

Kemudian, kalimat terakhirnya, *just my humble opinion*. Saya mencari kamus bahasa inggris apa saja, baik buku maupun di telepon saya ini. Dan saya menemukan definisi yang sama: modest, not arrogant, courteously respectful. Setelah mendalami makna ini lamat-lamat. Saya sedikit ragu, apakah kalimat terakhir ini adalah paradoks, ironi, atau yang paling sederhana: salah tulis?

Saya menghela nafas panjang. Saya memilih tidak tersinggung. Tapi cukup tersenyum saja. Saya yakin, proses pembentukan karakter maupun pemikiran seseorang bisa berubah kapan pun, dimana pun. Ah, atau bisa saja, saudara ini sedang membutuhkan pemulihan jiwa karena trauma.

Well, jangan sedih, saudara. Hidup tidak seberat yang kau pikirkan. Pakailah semua kacamatamu secara bergantian, dan lihat kembali dunia ini dengan kacamata-kacamatamu itu. Yang akan kau dapati bukan hanya paradoks, ironi atau salah tulis, namun yang akan melebihi semuanya itu.”

15:30. Ouch! Saya melepaskan 30 menit untuk bersiap-siap. Tapi tak apa, karena saya melepaskannya untuk sesuatu yang membahagiakan diri saya.

*Terima kasih, Mas Sidik untuk statusnya. 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Komentar

  1. Mungkin kata² ‘ just my humble opinion’ cenderung sebuah pernyataan sarkastic ttg fenomena yang baru dia alami… 🙂

  2. Jatuh cinta it nasib ada yg blg bgt. Kalau menikah it takdir. Selamanya kt tidak bs menolak nasib tp masih bisa merubah takdir. Nasib adalah pasca takdir dan takdir adalah pra nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s