My Love Was Fever


Hari ke-seribu. Anggaplah begitu.
Tidak ada yang janggal, semuanya normal.
Little Children pagi ini membawaku kembali.

Kita seharusnya berpulang kepada apa yang kita awali.
Bukan untuk mengulang kesalahan, namun untuk membuka jendela yang baru.
Apa yang dibilang salah? Apa yang dibilang tidak seharusnya dilakukan?
Jika pemberontakan jiwa adalah manifestasi ketidakpuasan, lantas kemudian kita berhak membenarkan pilihan yang kita pilih??
Dalam sela nafas yang terhempas, selalu masih ada sesuatu yang tertinggal.

Jika saat ini aku merindumu, cuma itu saja.
Titik nadir sadar tidak pernah ada, halusinasi kita selalu mempermainkan.
Jangan pernah minta untuk kembali.
Tidak ada kesalahan yang salah.
Kesalahan ini benar. Aku hanya merindumu. Itu saja.

Tidak lain.
Waktu kembali berjalan setelah terdiam beberapa saat.
Kereta tetap melaju di relnya.
Kehidupan berjalan kembali.
Aku tetap merindumu, walau tidak ada niat untuk bertemu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s